Jakarta, 2010. Rainy season. A quiet café in Kemang with flickering lights and a playlist of Kerispatih and Peterpan songs drifting through the speakers.
Silence. Rain grows louder.
They both laugh, crying at the same time. The rain begins to ease.
: "Aku egois, Rak. Aku takut kehilangan kamu. Tapi makin aku sembunyiin rasa itu, makin hancur aku. Maaf... maaf banget."
: "Dinda... aku juga punya pengakuan."